Minggu, 11 Oktober 2015

NIGHTMARE ~Bab 4~


“Kamu tidak apa-apa, hanya pusing akibat terik matahari. Saya sarankan kamu untuk banyak minum air putih agar tidak mudah dehidrasi.”
Saat ini aku berada di sebuah rumah sakit. Ketika aku jatuh pingsan sebelumnya, banyak orang yang panik dan segera menghentikan motornya. Ketika tersadar, aku sudah ada di salah satu ruang yang ada di rumah sakit ini.
“Ya, terima kasih dok.” Ucapku. “Apa saya sudah boleh pulang?”
“Tentu.” Dokter itu tersenyum, kemudian keluar kamar.
Setelah mengurus beberapa hal, aku akhirnya berhasil keluar dari rumah sakit. Ketika di luar, kuhirup udara sebanyak-banyaknya. Karena mencium bau obat, alkohol, dan peralatan rumah sakit lainnya, perutku jadi terasa terkocok. Aku hampir muntah karenanya.
Dinding rumah sakit yang putih juga membuatku pusing. Rasanya, aku bisa limbung kalau terlalu lama disana.
Nuuuttt…..
Getar ponsel membuatku terperanjat. Segera kubuka tas dan menatap serius layarnya. Tulisan “Mama” beserta fotonya yang kutambahkan muncul ketika kubuka dompet ponsel.
“Halo, ma” ucapku ketika mengangkat telepon.
“Halo, sayang?” suara lembut mama segera memenuhi telinga.
“Kenapa ma?”
“Kamu kapan pulang? Sebentar lagi liburan kan?”
“Lusa aku pulang kok ma.”
“Oooh, lusa. Ngomong-ngomong sayang, mama sudah nonton beritanya, katanya teman sekampusmu ada yang meninggal ya?”
“Iya, sudah masuk TV ya?”
“He eh, kamu kenal orangnya? Katanya namanya Kintan. Apa jangan-jangan…”
“Iya, Kintan yang itu, yang dulu sering aku certain pas jaman SMA”
“Innalilah… apa benar dibunuh?”
“Katanya sih begitu,”
“Haduh, itu namanya hukuman. Eh, sayang sudah dulu ya, mama masih mau memasak.”
“Iya ma.”
“Lusa pulang kan? Nanti temani mama jenguk pamanmu di penjara ya”
“Siap ma”
“Assalamualaikum”
“Wa alaikumussalam”
Tut…
Telepon dari mama sudah ditutup. Aku menghela napas, memikirkan ajakan mama menjenguk pamanku yang satu itu. Dulu, aku cukup akrab dengannya, beberapa kali dia memberiku uang untuk jajan. Sedih rasanya memikirkan dia yang sekarang.
“Haaah” aku menghela napas panjang.
Aku menengadah keatas, menatap langit biru yang disertai sedikit awan. Cahaya matahari yang silau membuatku harus menyipitkan mata. Satu kata yang sedikit menggangguku—entah kenapa—“pulang”.


-To Be Continued-


Selasa, 26 Mei 2015

Saudari


Di sebuah rumah dipinggiran kota, hiduplah dua kakak-beradik yang rukun. Mereka hidup dalam damai setelah ditinggal mati kedua orang tuanya.
Sang adik bercita-cita menjadi seorang seniman, dan kakaknya bercita-cita menjadi juru masak handal yang terkenal.
Bila dilihat dari luar, mereka adalah saudara yang sangat rukun. Namun, tanpa sepengetahuan masing-masing, suatu penyakit mengerikan telah menggerogoti mereka…

---

“hahaha! Dia sesak napas!” teriak seorang gadis dengan girang.
Dentuman bunyi kaca yang terpukul-pukul tak dihiraukannya. Ia hanya senang melihat seseorang yang sekarat dari balik layar ponselnya.
Tak lama kemudian gadis dari video yang ditontonnya itu berhenti bergerak. Tubuh gadis itu bergerak pelan mengikuti air yang memenuhi akuarium tempatnya dikurung. Rambutnya yang panjang dan hitam menyebar dan bergerak seakan hendak menutupi ruang akuarium.
Air biru yang memenuhi akuarium terlihat seakan bercahaya di tempat gelap. Memberi kesan eksotis yang unik.
“cantiknya…” ucap gadis itu dengan tatapan kagum. “aku juga mau punya”
Gadis itu mulai berpikir, apa saja yang diperlukannya untuk karya seninya ini “aku memerlukan seseorang berambut panjang hitam yang cantik” ujarnya.
Kebetulan sekali, setelah ia berpikir begitu, kakaknya yang berambut hitam dan panjang datang. “dek, kakak perlu daging nih, minta tolong dong” ucap kakaknya.
Si adik tak merespon ucapan kakaknya, dia memandangi rambut indah kakaknya dengan gembira.
“rambut kakak cantik deh” ucapnya.
“eh?”
“kak, mau bantu aku bikin karya seni gak?”

---

“rasa daging manusia tuh gimana sih?” pikir gadis itu ketika menonton berita.
Pikiran anehnya itu melesat ketika ia sedang menonton berita mengenai seseorang yang membunuh kemudian memakan korbannya.
“ah, kalau mau jadi chef terkenal aku kan mesti ngerasain semua masakan ya…” gumamnya.
Gadis itu kemudian teringat dengan jam makan siang yang sudah dekat. Matanya menatap kearah jam dinding yang berada tepat diatas TV-nya.
“duh, sudah jam segini, masak dulu deh” ucapnya “eh tapi, aku mau coba masak daging manusia deh…” lanjutnya.
Dengan cepat dia melangkah menuju dapur, membuka lemari tempatnya menyimpan pisau dan mengambil pisau tertajamnya.
“yah, ini sih kurang tajam buat ngegorok” ucapnya.
Dia kemudian mengambil sebuah asahan pisau dan mengasah pisaunya. Setelah dirasa cukup tajam dia pun menyudahi kegiatan mengasahnya.
“sip, dah cukup” pikirnya dengan senang.
Dia kemudian berjalan menuju kamar adiknya dengan pisau belati di tangan kanannya.  Dengan lembut dia berucap;

 “dek, kakak butuh daging nih, minta tolong dong”

---

Bila dilihat dari luar, mereka adalah saudara yang sangat rukun. Namun, tanpa sepengetahuan masing-masing, suatu penyakit mengerikan telah menggerogoti mereka…

Penyakit itu bernama  psikopat
Rabu, 13 Mei 2015

NIGHTMARE ~Bab 3~


Seusai malam nun gelap, matahari pagi yang silau mulai menunjukkan dirinya dari ufuk timur. Kegelapan yang berkuasa perlahan mulai tergantikan oleh cahaya yang disambut gembira oleh alam.
Aku membuka mataku, menggeliat diatas kasur. Empat hari yang lalu, akibat terjadi pembunuhan di kampus, seluruh kuliah diliburkan hingga hari yang tidak dapat ditentukan.
Tadinya aku ingin segera pulang ke rumah orang tuaku. Toh, paling kuliah akan diliburkan hingga liburan semester. Tapi, aku masih belum tahu pasti kapan liburan semester dimulai dan kapan berakhir. Yang pasti tidak lebih dari sebulan lagi.
Aku bangkit dari kasur dengan rambut berantakan dan mata bagaikan ikan mati. Sejak libur, penyakit tidur sambil berjalanku tiba-tiba lenyap seakan ditelan bumi. Mungkin hanya empat hari ini, tapi kuharap bisa bertahan hingga seterusnya.
Kakiku menjejak lantai keramik yang licin dan dingin. Dengan lemas aku berjalan kearah jendela. Kusibak gorden tipis yang menghalangi jendela berkaca hitam didepanku itu.
Kubuka jendela kamarku sambil menguap-berusaha memasukkan sebanyak-banyaknya udara ke paru-paru. Langit sudah cerah. Cahaya matahari yang berwarna oranye menghiasi langit biru gelap bertabur cahaya bintang. Di hadapan sang surya, terlihat bulan sabit yang masih belum menyadari keberadaan matahari tengah terlelap ditengah kegelapan yang perlahan semakin terang.
Setelah puas memandangi ketidak konsistenan langit-antara malam dan siang-aku berbalik berjalan menuju kamar mandi di sudut kanan kamar.
Ditengah perjalananku menuju kamar mandi, dengan sigap aku menarik handuk yang tergantung tepat disamping kamar mandi.
Tak perlu waktu lama untuk bersiap mandi. Dua menit setelah aku memasuki tempat dengan bahasa Inggris bathroom itu, aku sudah mulai menyirami tubuhku dengan air dingin yang mengalir dari ledeng.
Tiba-tiba aku bisa merasakan rasa nyeri dan perih di beberapa bagian tubuhku yang tesiram air. Kontan saja aku mengerang ketika rasa perih itu menyerang.
Aku menoleh kearah salah satu asal rasa perih itu. dibahuku ada sebuah bekas cakaran kuku yang entah sejak kapan dan dari mana munculnya aku tidak tahu. Tiba-tiba saja luka-luka itu muncul entah dari mana.
Sebenarnya ini sudah lebih baik ketimbang beberapa hari yang lalu. Sebelumnya, luka ini masih berwarna sangat merah. Bahkan disentuh saja sudah pedih.
Mungkin ketika aku tidur sambil berjalan sebuah benda seperti jari-jari menggores bahuku dan beberapa bagian lainnya. Meski aku tidak tahu benda apa yang memiliki bentuk dan ukuran selayaknya jari manusia.
.
.
.
“kepribadian ganda?” tanyaku.
“yup, gimana? Keren gak?” jawab Susi.
“hm… lumayan lah, tapi endingnya tragis banget, masa karakter utamanya mati” jawabku.
“nggak semua cerita mesti happy end kan honey” ucap Susi.
“iya sih…”
Saat ini Susi sedang meminta pendapatku untuk seri komik yang akan di buatnya untuk ditaruh di sebuah halaman web site. Susi bilang, kalau ceritanya bagus, bisa saja ada publisher yang bersedia menerbitkan komiknya, dan dia akan berhasil debut.
“oh iya, lusa aku mau balik ke rumah ortu, mereka pulang lebih cepet dari jadwal” ucap Susi “akhirnyaaa nanti pokoknya aku minta dibikinin makanan yang banyak!” lanjutnya dengan senyum sumringah.
“eh? Serius?” jawabku.
“iya, kalo kamu kapan?”
“nunggu pemberitahuan libur aja deh”
“percuma deh, paling liburannya beberapa hari lagi”
“tapi nanti aku gak tahu tanggal turunnya”
“ditanya-tanya aja sama yang lain”
“kamu ini…” aku tak bisa membalas.
“Tik, udah dengar berita terupdate soal pembunuhan Kintan belum?” tiba-tiba sorot mata Susi mendadak berubah menjadi serius.
“umm belum, kenapa?” tanyaku.
“kabarnya, si pembunuh Kintan itu benar-benar melakukan pembunuhannya dengan bersih” jawab Susi.
“oh ya?”
“iya, nggak ada saksi mata, nggak ada jejak sidik jari, nggak ada alat yang digunakan untuk membunuh, hampir nggak ada petunjuk apapun!”
“elah, serius kamu? Hebat banget sampai kayak begitu”
“orang itu pasti udah sering membunuh” ucap Susi menyimpulkan.
“hush!” sahutku.
Setelah puas berbincang, aku segera memilih untuk pulang. Aku menaiki motor bebekku dan menyalakan mesinnya. “bye” ucapku sambil melambai kearah Susi yang dibalas oleh lambaiannya.
Diatas motor, aku berpikir, apa sebaiknya aku pulang kerumah orang tua saja ya lusa nanti? Aku tidak punya banyak teman disini, satu-satunya temanku yang akrab hanya Susi seorang. Kalau Susi pergi, kota ini akan jadi sangat membosankan buatku.
Entah karena sinar matahari yang terik, atau apalah, tiba-tiba kepalaku terasa pusing. Aku segera menghentikan motorku ditengah jalan. Banyak pengendara motor dan mobil yang membunyikan klakson, menyuruhku untuk tidak berhenti ditengah jalan.
Rasa pusing yang menghampiri membuat kepalaku serasa berdenyut-denyut. Sekelebat bayangan muncul di kepalaku. Seorang gadis yang terlihat sedang mengamuk. Dia memukuliku, entah kenapa dia melakukan itu.
Setelah terdiam selama tiga menit, tubuhku semakin melemah. Kesadaranku menurun, dan pandanganku berkabut. Dengan lemas aku terjatuh ke aspal yang panas. Setelah itu, aku tidak tahu apa-apa lagi. Semua terlihat gelap bagiku.


-To Be Continued-
Sabtu, 09 Mei 2015

MY BIGGEST SCREAM


Napasku memburu, jantungku berderu. Mataku memerah akibat terlalu letih menangis. Pergelangan tanganku-pun memerah akibat terlalu kutarik. Darah mengalir dari berbagai seluk-beluk tubuhku.
 “sudah… hentikan… kumohon…” ucapku lemah.
Pria itu hanya tersenyum puas, ia terlihat bahagia. Matanya memandangi seluruh tubuhku, dari ujung kaki hingga ujung kepala.
Bukannya mengabulkan permintaanku, dia malah mengambil peralatannya yang lain. Didekatkannya mulutnya ke telingaku, membisikkan suatu kata.
“berteriaklah”

Maka dengan ucapannya itu, aku berteriak. Senyaring-nyaringnya, sekencang-kencangnya, karena untuk yang terakhir, akan kuberikan teriakan terkerasku.
Senin, 04 Mei 2015

CRAZY HONEY


“aku mencintaimu” ucap sang pria dengan seulas senyum tipis di bibirnya. “aku mencintaimu” ucapnya sekali lagi.
Sang pria terus-terusan mengatakan ‘aku mencintaimu’ meski gadis pujaan hatinya tak menghiraukannya. Gadis itu hanya sibuk dengan dirinya sendiri.
“aku menyayangimu” ucap pria itu “tahukah kau aku selalu ingin bersama denganmu seperti ini sejak dulu?” lanjutnya “kau selalu berlari menjauh, kenapa?” tanyanya.
Sang gadis tak dapat berucap akibat mulutnya yang tersumpal.
 “tapi tak apa” ucap sang pria “ mulai sekarang kita akan bersama” lanjutnya.
 “setelah lama menunggu, setelah lama merencanakan, aku akhirnya bisa bersamamu” ucap sang pria “aku akhirnya berhasil menangkapmu”
Pria itu memeluk gadis yang ada dihadapannya. Gadis itu mengerang, memperlihatkan rasa tidak suka.
“sayang, hidupmu sekarang milikku, kita akan hidup bersama di tempat yang jauh” ucapnya dengan penuh kebahagiaan “dan jika kamu meninggalkanku, aku akan menyeretmu kembali bersamaku” lanjutnya “ dan jika kamu menolak, kita akan hidup bersama… di alam lain”
Gadis itu berteriak senyaring mungkin, melancarkan berbagai hujatan, dan mengutuk.
Pria dihadapannya itu justru terkikik geli melihat sang gadis yang sedang emosi. “kamu makin cantik kalau marah” ucapnya.
Gadis itu melotot memperlihatkan kedua bola matanya yang merah menyala. Dia berteriak nyaring, berusaha mengucapkan sebuah kalimat.


“dasar gila!”
Jumat, 24 April 2015

I LOVE YOU


“Mitha, gue minta maaf Mit! Lo boleh lakuin apa aja asal jangan lo bunuh gue!” pinta Luna sambil terisak “lo boleh ambil Arya, lo boleh ngebully gue, gue bakal nyiumin kaki lo, tapi jangan lakuin ini!”
Meski telah memohon dan berteriak nyaring, mataku tetap memandang dalam dingin kearah Luna yang menangis meraung-raung meminta pembebasan dari hukuman yang akan kuberikan.
“Mithaaa ampuni gue!” pinta Luna sambil terus menangis tersedu-sedu. “lo boleh hancurkan dunia gue Mit, lo boleh injak kepala gue, lo boleh tendang gue, tapi ampuni gue”
Melihat Luna yang menangis memohon dan merendahkan diri di hadapanku, membuatku teringat akan diriku dulu.
Aku menatap dalam ke matanya. Rasa takut, shock, dan stress yang sebelumnya selalu bersembunyi dibalik pekatnya mataku, kini menyembul keluar dari balik mata orang yang paling kuinginkan didunia.
Sebelumnya aku tak pernah membalas setiap perlakuannya selama tiga tahun ini, dan sekarang adalah pertama kalinya aku membalas.
“gue mohon Mit…” Luna menunduk, seakan dia mulai menyerah mempertahankan hidupnya.
Melihatnya yang begitu tersiksa menghadirkan seulas senyuman tipis dibibirku. Aku berjongkok, mendekatkan wajahku kehadapannya.
“tiga tahun yang lalu aku sudah memperingatkan kamu, kamu nggak mau dengar peringatanku, ya ini akibatnya” ucapku dengan senyum licik menghiasi.
Luna ternganga dan mulai memohon-mohon kembali ketika melihat aku mulai menyalakan alat penggiling daging yang amat besar dihadapannya.
Aku mengangkat sebelah kakiku dan  dengan cepat juga kuat aku menekankan telapak kakiku ke tubuh Luna hingga dia terjatuh dari pinggir penggilingan.
“Mitha sialan! Bangsat lo! Gue sumpahin lo nggak akan bahagia! Brengsek!” caci Luna dengan suara yang perlahan menghilang ditelan erangan rasa sakit menahan tubuhnya yang tercabik-cabik.
“bla, bla, bla” aku mencerca “diam sampai nggak terbendung dan mengakhiri dengan sadis, aku mah gitu orangnya”
Tawaku pecah dan segera memenuhi pabrik. Suaraku menggema, menggetarkan seluruh ruang. Aku tertawa selayaknya orang gila. Ya, aku gila, gila karena baru saja membunuh yang tercinta bagiku.
Rasa puas, bahagia, sedih bercampur aduk dan menyatu menjadi rasa yang lebih gelap dari hitam, rasa yang lebih pekat dari darah, dan lebih mengerikan ketimbang kutukan. Ini adalah pembalasan atas tiga tahun penyiksaannya.
Aku menatap ke layar ponsel. Ya, tepat hari ini, tiga tahun yang lalu aku dan Luna bertengkar. Pertemanan manis sejak kecil yang dihancurkan hanya karena masalah perbedaan faham dan berakhir dengan kematian salah seorang.
Jariku menekan nomor yang sebelumnya telah kuhafal. Kemudian memanggil sang pemilik nomor. Ketika seseorang mengangkatnya, aku segera menyebutkan alamat pabrik penggilingan tempatku membunuh Luna, dan kemudian berkata…
“seorang gadis bernama Luna baru saja terbunuh di penggilingan daging, dan saya, Mitha, kekasihnya Luna-lah yang telah membunuhnya”
Dari seberang telepon terdengar pekikan kaget yang luar bisa. Aku tertawa kecil. Segera kuputuskan telepon itu, kemudian membalikkan tubuhku kea rah Luna yang kini hanya tinggal bercak darah dan gumpalan daging belaka.
“baru sebentar kutinggal kamu sudah hancur duluan. Ya sudah deh”
Aku melangkah lebar, dan menjatuhkan tubuhku ke penggilingan.

*
                                                                                                                                   
Kamu tahu Luna? Aku membalasmu bukan karena bullying yang kamu lakuin ke aku. Tapi karena kamu yang nggak bisa jadi milik aku. Apa gunanya punya orangnya tapi nggak punya hatinya?


*
Rabu, 15 April 2015

NIGHTMARE ~Bab 2~


BAB 2

Kintan meninggal dibunuh orang
Aku terkejut bukan main. Sejenak aku tak dapat berpikir lagi. Aku hanya… terkejut.
Bisa kuingat dengan jelas, malam tadi, aku bermimpi melihat Kintan dibunuh. Dan sekarang, Susi berkata Kintan dibunuh orang. Apa semua ini berhubungan? Sungguh, aku tak pernah berpikir akan mendapati berita seperti ini. Kintan memang menyebalkan, tapi sampai dibunuh orang? Apa tidak salah? Apa yang curut itu lakukan hingga dibunuh?
“serius kamu? Kintan?”
“ho oh, aku denger-denger aja juga sih”
“Astaghfirullah…” aku mengelus dada.
“kukira kamu bakalan senang”
“hidih! Sebenci apapun aku, aku nggak akan senang atas kematian seseorang!”
“iya, iya maaf ndoro”
Aku terdiam sejenak, berita mengerikan ini membuatku merinding. Mungkinkah tadi malam aku berjalan hingga lapangan kampus dan yang kulihat tadi malam itu adalah kenyataan?
“Tika? Halooo wake up girl, dah siang” Susi memanggilku.
“ah…” aku tersadar dari lamunanku. “sori, lagi mencerna aja”
“mencerna apaan? Makan pagi?”
“bukan, udah deh, ke kantin aja yuk”
“kantin tutup, kita bakal libur sampai tanggal yang belum ditentukan”
“serius? Kok aku enggak tau?”
“makanya datang dicepetin, lambat sih kamu”
“yaaah terus gimana dong nih?”
“makan-makan aja di rumah makan depan kampus, kamu yang traktir”
“yeee enak aja” aku menyentil jidat Susi. “aku mau pulang aja deh” ujarku sambil berjalan pergi.
Jujur, sebenarnya aku masih syok. Dengan mimpi seperti tadi malam, mana bisa aku tidak berpikir ini tidak ada hubungannya denganku?
.
.
.
BRUK! Aku membaringkan tubuhku diatas kasur. Mataku memandang langit-langit kamar yang berwarna krim. Aku menutup mataku, berusaha mengingat mimpiku tadi malam.
Ketika itu aku berdiri di sudut lapangan utama. Aku dapat melihat seseorang berdiri tegap di tengah lapangan, cahaya bulan yang keperakan menyinarinya. Tangannya memegang sebilah pisau. Dibawahnya, terbaring seorang gadis yang mirip Kintan.
Aku membuka mataku, kembali melihat kearah langit-langit kamar. Aku berusaha menggabungkan kedua kejadian yang baru terjadi ini. Tadi malam aku bermimpi melihat Kintan dibunuh oleh seseorang, dan paginya aku mendapat berita bahwa Kintan dibunuh oleh seseorang.
Apa-apaan ini? Apa ini berarti aku memiliki suatu kemampuan khusus? Tak ada seorangpun didalam keluargaku yang memiliki kemampuan khusus seperti ini, jadi jelas ini bukan kemampuan keturunan.
Mataku menutup perlahan. Aku hampir terlelap dalam kantuk yang tiba-tiba menyekapku. Sebuah dering nyaring dan getaran keras yang berasal dari dalam tas menyadarkanku. Aku segera duduk dan membuka tasku yang terletak hanya beberapa sentimeter dariku.
Aku membuka handphoneku, aku dapat melihat nama Susi di layar handphone, dan gambar sebuah surat berwarna putih. Kubuka pesan dari Susi:
Hei, ketemuan bentar yuk, di café depan mall, ada yang mau kuceritakan.
Aku menatap dengan mata cuek pada layar handphone. Aku sedang malas sekali keluar kosan, jadi kurasa aku akan menolak ajakannya.
Ketika aku akan menulis balasan untuk Susi, tiba-tiba bunyi nyaring kembali keluar dari handphoneku. Lagi-lagi nama Susi-lah yang tertulis dan sebuah gambar surat. Kusentuh gambar surat itu.
Aku sudah di café, cepetan datang!
Aku terkejut membaca pesan dari Susi, mataku terbelalak. Baru saja dia mengajak ketemuan, dan sekarang dia sudah sampai? Apa yang dipakainya untuk pergi ke sana?
Dengan malas aku bangkit dan mulai bersiap-siap. Aku mengganti pakaianku dan menyisir rambutku, meski setelah itu kuikat ekor kuda lagi.
Setelah selesai bersiap-siap, aku mengambil tas srempang-ku yang berwarna cokelat-krim dan pergi menemui Susi.
.
.
.
Aku berhenti didepan café, kemudian melangkah mendekati Susi yang sedang menunggu dengan kopi di tangan kirinya dan smart phone di tangan kanannya. Kelihatannya dia asyik sekali memainkan ponselnya. Sesekali wajahnya menegang, sesekali terlihat lega.
“hai cewek, lagi main apa? kayaknya asik banget, ajakin aku dong”
“wow hei, bikin kaget aja, kukira om-om genit betulan”
“hehe” Aku duduk didepan Susi.
“hei, ujian sudah lewat nih, liburan nanti mau kemana?”
“mau balik aja, ke rumah ortu, kalau kamu?”
“tau nih, maunya sih pulang juga, tapi rumah lagi kosong, keluargaku pada ke rumah tante di Sumatra”
“ooh…”
Aku dan Susi berbincang-bincang ringan. Aku bercerita tujuanku pulang adalah sekalian menengok pamanku di penjara. Pamanku dipenjara karena kasus pembunuhan. Dia membunuh orang yang dua tahun lalu mencuri barang di rumah dan membunuh isterinya. Sejak isterinya di bunuh, pamanku sering sekali mengoceh aneh. “oh ya?” ucap Susi “ngoceh apaan?”
“ dia bilang “nyawa harus dibalas dengan nyawa” setiap kali dia bicara begitu, keluarga yang lain langsung menasihatinya untuk mengikhlaskan kepergian istrinya”
“wow, itu… terasa agak horror…” Susi berkomentar.
“yah…” aku membuang napas pelan. Sebelum isterinya meninggal, pamanku itu memang orang yang keras, tapi dia sangat baik. “aku juga nggak menyangka, dia bakal balas dendam kayak begitu”
“ngomong soal bunuh membunuh, aku jadi keingetan Kintan. Meskipun dia nyebelinnya minta ampun, tetep aja kasian”
Aku terdiam mendengar ucapan Susi. Aku jadi teringat lagi soal mimpiku tadi malam. Apa yang sebaiknya kulakukan? Apa sebaiknya aku ceritakan soal mimpi itu ke Susi ya?
“ng… anu Sus”
“apaan?” aku tersentak. “nggak jadi deh…” Entahlah, sepertinya ini bukan saat yang baik untuk menceritakannya. “eh, kita ke Mall aja yuk” aku berusaha mengubah topik.

“oke” Susi setuju. Susi kemudian membayar kopi yang dipesannya dan berjalan menyulku di tempat parkir.
“waduh” aku kaget ketika melihat bensin motorku. Sebenarnya aku dan  Susi cukup berjalan untuk sampai ke mall, tapi, tempat parkir café dan mall beda, sedangkan kami dilarang parkir di depan café kalau tujuannya ke mall. Sehingga kami harus memparkirkan motor kami di tempat parkir mall.
“kenapa?”
“tau nih, motorku boros banget, baru diisi penuh kemarin, udah tinggal setengah aja”
“mau diisi lagi?”
“nggak usah deh, cukup aja kok”
“yaudah, langsung ke mall aja yuk”
“hayuk”

-To Be Continued-

Blogger templates

Cerita terpopuler!

Mengenai Saya

Foto saya

Jangan cuma melihat orang lain, lihat juga diri sendiri
Jangan lupa, yang punya awal, pasti punya akhir
Kita ini calon tanah yang bakal di injak-injak, tidak usah terlalu sok bergaya dan hebat
Diberdayakan oleh Blogger.

Follow me on mail^^

Blogroll